Pendidikan karakter di Museum History of Java tidak terlepas dari dukungan para guru pendidik untuk memotivasi semangat kunjung outdoor learning museum yang cerdas, aktif, dan kreatif.
Sejak museum ini berdiri pada 2018, kunjungan Museum History of Java dari berbagai sekolah di Yogyakarta maupun daerah lain, telah mencapai tujuan yang sangat esensial. Museum History of Java pun sangat mendukung setiap konsep gerak pendidikan yang sesuai materi belajar di Museum.
Seperti halnya karakter pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara bahwa project penguatan karakter diri pelajar pancasila, sejatinya harus menyentuh aspek harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik). Pemikiran Ki Hadjar Dewantara inipun menjadi acuan Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).
Lantas, bagaimana Museum History of Java turut berproses untuk memperkuat seluruh karakter pelajar pancasila tersebut?
1. Harmonisasi Olah Hati
Harmonisasi ini tercipta dari kedatangan awal dimana keinginan hati para siswa sudah terdorong kuat dari rumah atau sekolah untuk melakukan outdoor learning di museum History of Java. Proses ini juga didukung oleh Guide Museum yang menyambut kedatangan -anak didik dengan penuh semangat. Diawali aktivitas foto bersama di depan ikon Pyramid Museum History of Java. Jadi karakter belajar terbentuk pertama-tama melalui hati yang ringan tanpa beban untuk belajar di luar gerbang sekolah
2. Harmonisasi Olah Rasa
Dari olah hati menjadi olah rasa yang artinya eksplorasi ruang koleksi museum juga melibatkan olah rasa untuk menikmati suasana di sekitarnya. Olah rasa ini akan membuat anak-anak tertarik pada narasi maupun benda koleksi museum. Dimana mereka tak hanya melihat namun juga merasakan kedalaman kisah-kisah storytelling oleh guide museum serta kemudian semakin mengagumi setiap benda yang mereka temukan.
3. Harmonisasi Olah Pikir
Setelah olah hati dan olah rasa tentunya yang berjalan adalah olah pikir yaitu kemampuan berpikir secara pengetahuan naratif, menajamkan nalar kritis, dan muncul keinginan bertanya atau berdiskusi. Pemikiran yang terbentuk seperti keingintahuan nama artefak, fungsi artefak sejak masa lalu, darimana dan siapa yang menggunakan. Selain eksplorasi pribadi, dalam kunjungan sekolah pun anak-anak dapat sambil mengerjakan soal-soal dari lembar tugas, baik yang diberikan oleh sekolah, maupun dari LKS Museum History of Java.
4. Harmonisasi Olah Raga (Kinestetik)
Museum History of Java tak hanya membangun olah hati, olah rasa, dan olah pikir kritis, namun juga olahraga atau kinestetik, yaitu bagaimana keaktifan atau kelincahan gerak tubuh anak-anak selama proses eksplorasi berlangsung. Gerak tubuh kinestetik yang aktif menandakan antusiasme yang kuat apalagi jika anak terlihat rajin bertanya, mengajak berdiskusi, bahkan mampu menerangkan.
Selain itu menariknya kinestetik Museum History of Java terlihat dari teknologi visual film hingga meta museum seperti halnya Augmented Reality (AR) dari aplikasi History of Java Museum AR. Dengan mencoba teknologi AR misalnya mereka melakukan gerak tubuh ekspresif dengan obyek maya atau ilusi digital 3D yang hanya nampak melalui layar aplikasi ponsel.

Inilah sebuah kecanggihan digital meta museum dimana objek 3D benda-benda kuno, hewan langka, maupun tokoh sejarah, seakan hadir bersama dengan pengunjung museum, di dalam bentuk foto ataupun video aplikasi History of Java Museum AR.
Begitupun dengan ruang diorama dimana anak-anak dapat berekspresi foto diri maupun bersama-sama menggunakan background foto ala kehidupan Jawa tempo dulu yang sangat menarik.
Museum Teguhkan Karakter Siswa
Museum History of Java dengan berbagai koleksi benda bersejarah mengenai peradaban Tanah Jawa telah mengandung semua nilai utama karakter pelajar pancasila. Seperti mencakup religius, nasionalis, gotong royong, integritas, dan kemandirian. Tentunya, proses menanam nilai-nilai karakter ini memerlukan support dari pemandu berpengalaman untuk menjelaskan secara dalam dan menarik, tentang seluruh narasi kisah dari koleksi benda museum.
Inilah pengalaman edukasi museum yang secara utuh akan terpatri dalam diri anak-anak apabila pihak museum dan guru pendamping berjalan bersama untuk menciptakan suasana belajar aktif dan berkarakter.
Tunggu apalagi, mari berkunjung ke Museum History of Java Yogyakarta di Jalan Parangtritis KM 5,5 Sewon, Bantul!